Yayasan Regina Pacis FMM Jambi - Fransiskan Misionaris Maria

Mengenal Beata Marie de la Passion : Kekosongan Hingga Menemukan Cinta Kepada Tuhan

Minggu, 29 November 2020 | 00:00:00 WIB | Dibaca: 2881 Kali


Pengalaman Kekosongan

     Pada tahun 1850, suasana duka mulai memasuki kehidupan Helene, tepat diusianya yang ke sebelas tahun. Pertama di Bulan Oktober tahun itu, kakak sepupunya Aurelie, yang sangat dekat dekat dengannya meninggalkan dunia fana ini menuju kekeabadian dalam usia lima belas tahun. Selang dua bulan kemudian, Martine, kakaknya yang sangat ia cintai menyusul sepupunya Aurelie. Kakaknya Louise pun yang menikah di usia enam belas tahun, kesehatannya menurun dan semakin melemah. Kenyataan ini membuat ayahnya sedih dan murung terus menerus, ayahnya tidak dapat mengatasi kedukaannya. Ini membuat ayahnya terpaksa mundur dari pekerjaannya. Semuanya itu sangat menyedihkan bagi keluarganya.

Karena kesehatan Louise yang terus melemah, Helene sekeluarga pun tinggal bersama keluarga Louise. Ibunya sangat sibuk merawat Louise; Helene sendriian dan bebas mengatur hidupnya. Namun pada tahun 1854, dokter mengajurkan Louise untuk tinggal ditempat yang sejuk dan terhindar dari polusi, maka mereka memutuskan kembali ke Nantes. Helene sangat bahagia karena dia biasa bertemu kembali dengan teman-temannya.  Kebahagian itu pun cepat sirna karena direngut kembali oleh kesedihan karena dua bulan setelah kepindahan mereka ke Nantes, Louise juga menyusul Martine kakaknya ke Surga.

Helen pun bertumbuh semakin dewasa dan cantik. Banyak orang kagum padanya. Bahkan kakak iparnya (suaminya Louise) jatuh cinta padanya bahkan melamarnya. Namun Helene menolaknya karena seperti remaja lainnya ia masih bingung dan belum menetukan pilihan hidupnya. Ia juga masih teguh dengan pendiriannya untuk masuk biara.

 

            Ibunya mulai memikirkan perkembangan batin anaknya, yang menurut perasaannya Helene terbakar oleh suatu api didalam hatinya yang dirahasiakan terhadap siapa saja. Jadi, waktu Helene minta izin untuk ikut ret-ret tahunan dengan kelompok: “anak-anak Maria dan Hati Kudus”, dengan senang hati itu disetujuinya.

            Pada pembukaan retret pater pembimbing mengatakan  bahwa dari sekian banyak anggota ret-ret ada seseorang yang dicari oleh Tuhan, yang dikehendaki Tuhan. Dia mengajak semua peserta untuk mendoakan “dia yang dikehendaki Tuhan itu”. Helen (Marie de la Passion) berkata dalam hatinya” akulah dia” meskipun ia juga merasa lucu dan heran dengan keyakinannya itu. Karena ia merasa bahwa ia tidak serius mengikuti ret-ret bahkan sering mengganggu ketenangan peserta lain. Dalam diarynya ia menulis:” …waktu pujian Sakramen Mahakudus akan berakhir aku mengalami seperti yang dialami Santo Paulus diperjalanan menuju Damaskus. “aku berlutut merasa dingin . lalu timbulah pikiran ini: “ Aku ini akan mencintai engkau selalu lebih dari pada engkau mencintai Aku, Aku yang sempurna, Aku adalah keindahan tanpa cela karena Aku ini Yang tak Terbatas, Aku adalah Allah.” Dia melanjutkan “ aku tidak mendengar kata-kata itu, pikiran itu berlangsung satu menit, tetapi aku diubah menjadi pribadi lain. Rasanya tidak ada apa-apa lagi yang memisahkan aku dari Allah. Aku terbakar oleh cinta yang sedemikian rupa sehingga dengan menyerahkan diri kepada Cinta itu terus menerus, merupakan suatu kelegaan hati.”

Sejak saat itu, hidupnya berubah sekali. Berakhirlah kebosanan, ketak-acuan. Kehidupannya sekarang memberi rasa cinta. Ini membuat ibunya sangat senang.

Komentar Facebook